Menguak Identitas Bangsa _ Tinjauan Historis Pembentukan Konsep Identitas Bangsa dan Konsep Penjajahan (kolonialisme) – edisi 1

Posted on Juni 1, 2011

1


“Pelita akan terus menyala walau dalam gelap malam dan terjangan badai dengan dua alasan yaitu bahan bakar dan kemauan kita untuk tetap menjaganya”  (Wage Wardhana Jr)

Pembelajaran sejarah senantiasa selalu mendapat tempat istimewa dan memiliki fungsi politis bagi pemerintahan dan perjalanan sejarah bangsa. Fungsi tersebut akan menyimpang karena adanya keinginan, dan obsesi penguasa serta kekurangmampuan masyarakat merefleksikan sejarah. Kalau hal itu terjadi, ironi akan menggeser fungsi sejarah dari pelajaran yang mencerahkan menjadi pelajaran yang membodohi dan membohongi masyarakat.  Sejarah dengan campur tangan pemerintah telah menjadi alat bungkam dan sebagai legitimasi kekuasaan. Sudah semestinya kita sekarang membawa sejarah menjadi pelajaran yang sarat dengan keilmuan dan mencerahkan kehidupan bangsa.

Fokusnya adalah meluruskan paradigma identitas bangsa melalui kacamata kelahiran konsep identitas dan penjajahan. Sebagai ilustrasi, dari zaman kemerdekaan hingga sekarang, kita selalu dijejali konsep yang salah tentang identitas dan penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing. Buktinya, setiap kita membahas proklamasi, guru sejarah selalu bertanya,, Anak-anak, berapa lama Indonesia dijajah? Sudah dapat ditebak, siswa akan spontan dan serempak akan menjawab 350 tahun. Selalu itu yang diulang dan mendarah daging dibenak masyarakat umumnya.

Padahal kalau kita jeli, Indonesia melewati tiga konsep pembentukan identitas kebangsaan. Pertama, bertepatan dengan sumpah Amukti Palapa pada tahun 1200-an muncul konsep Nusantaradwipantara –  (bukan Indonesia), bahkan konsep ini digunakan hingga tahun 1928. Semenjak itulah kita berhak menyandang identitas Nusantara. Kenapa tahun 1928? Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 akhirnya melahirkan identitas kebangsaan yang kedua, yaitu kita berhak menyandang status sebagai Bangsa Indonesia, hingga tahun 1945. Dan pada 17 Agustus 1945, kita berhak menyandang status sebagai Negara Indonesia. Semenjak itulah kita secara de facto mempunyai wilayah, presiden dan kelengkapan negara lainnya hingga sekarang.

Fenomena diatas memunculkan pertanyaan, apa yang salah dengan konsep penjajahan dan identitas Indonesia? Kalau ada orang yang bertanya kepada saya mengenai penjajahan, saya akan dengan lantang menjawab, sebagai nusantara kita dijajah selama 328 tahun. Itu pun sebenarnya belum sepenuhnya tepat karena masih perlu dijelaskan pengertian dan pemahaman kita tentang konsep penjajahan. Sedangkan sebagai bangsa kita dijajah selama 17 tahun dan sebagai negara, kita dijajah selama kurang lebih 3,5 tahun. Bagaimana bisa?

Ada tiga fakta yang dapat digali dan beberkan guna mendukung pernyataan di atas. Pertama adalah Sumpah Palapa, dideklarasikan sekitar tahun 1200-an. Pertama kali kita di jajah (bangsa Barat) adalah tahun 1599 atau 1600. Rentang waktu kita dijajah sebagai nusantara berarti dari tahun 1600-1928 (ingat konsep sumpah pemuda). Hasilnya Nusantara dijajah selama 328 tahun. Yang kedua,  sebagai bangsa Indonesia kita dijajah selama 17 tahun dari tahun 1928-1945. Ketiga adalah sebagai negara, kita dijajah Belanda dari tahun 1945-1949 atau sekitar 3,5 tahun. Mengapa demikian? Karena menurut versi Belanda kita merdeka pada tahun 1949 sesuai dengan adanya Konferensi Meja Bundar. Secara de jure Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Sedangkan versi kita (dilatar belakangi kepentingan nasional dan sebagai negara bangsa) yang hanya didukung India dan Mesir, kita merdeka pada tahun 1945.

Mungkin fakta atau data-data di atas masih perlu dijelaskan lagi, namun semoga rangkaian fakta ini akan menjadi paradigma baru untuk kita dalam sejarah Indonesia. Ingat pula, pada tanggal 17 Agustus 1945 kita jangan menulis “Dirgahayu Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945”, tetapi “Dirgahayu NKRI 17 Agustus 1945”. Karena, 17 Agustus merupakan tonggak kelahiran NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Posted in: Warta Opini