“Akar” Budaya Barat dan Kapitalisme

Posted on Februari 25, 2011

2


Renaissance ternyata tidak hanya melahirkan liberalisme dan demokrasi, tetapi juga mendorong perkembangan iptek yang luar biasa pesatnya. Terutama sistem ekonomi kapitalis dan HAM. Perkembangan iptek yang luar biasa pesatnya sejak abad ke-17 – 18 menimbulkan dampak yang luar biasa, salah satunya dalam bidang ekonomi. Revolusi industri yang muncul dan berkembang turut mendukung serta mempercepat berkembangnya sistem kapitalis ini. Industrialisasi telah menggantikan sistem ekonomi di Eropa yang merkantilistis saat itu dengan sistem yang baru tersebut. Ekonomi bukan lagi hanya dikelola oleh negara, tetapi juga mulai dikelola oleh individu atau swasta.

Kapitalisme boleh dikatakan sebagai salah satu puncak dari budaya Barat dalam bidang ekonomi. Kapitalisme telah mengubah atau menggerakkan ekonomi negara menjadi ekonomi swasta. Hal ini diakibatkan karena hampir bertepatan atau bersamaan perkembangan iptek yang mendukungnya. Semua itu sangat mendukung pertumbuhan sistem kapitalis. Dalam sistem ini memungkinkan setiap orang mendapatkan peluang yang seluas-luasnya lewat persaingan bebas untuk mencari keuntungan ekonomis bagi dirinya. Semangat persaingan bebas ini semakin mencolok dan mendapat pembenaran karena adanya dukungan dari teori evolusi Darwin yang menjelaskan, bahwa siapa pun yang ingin bertahan hidup dalam seleksi alam harus mempunyai keunggulan. Semangat teori Darwin tersebut diterapkan dalam bidang ekonomi, yaitu: “kalau mau memenangkan persaingan ekonomi, maka buatlah produk yang paling berkualitas dengan harga yang murah”. Maka tidaklah mengherankan jika sistem ekonomi kapitalis ini berkembang pesat dan dapat memenangkan persaingan melawan sistem ekonomi lainnya. Dan sistem ekonomi ini akan mencapai puncaknya di Eropa yaitu pada abad ke-19. dimana pada abad tersebut Eropa memang telah berkembang dan sedang tinggal landas dalam segala bidang.

Selain faktor iptek ada faktor lain yang menyebabkan sistem kapitalis ini dapat tumbuh dan berkembang di Eropa. Faktor tersebut merupakan faktor yang cukup penting dan mempunyai peran atau andil dalam mendukung tumbuh dan berkembangnya sistem kapitalis ini. Faktor tersebut adalah budaya Barat.

Dewasa ini tidaklah mengherankan, jika istilah ”kapitalisme” dalam perjalanan sejarahnya telah dimaknai dengan arti yang beragam, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan persamaan persepsi atau makna dalam penggunaannya. Lepas dari keberagaman penggunaan istilah kapitalisme dan ditolaknya sebagai suatu sistem ekonomi oleh sekelompok orang, maka tokoh sosiolog seperti Peter Berger melihatnya sebagai fenomena sejarah. Kapitalisme sebagai fenomena sejarah perlu ditelusurinya secara historis dengan memperhatikan kaidah-kaidah ilmu sejarah. Secara singkat dapat dikatakan bahwa esensi kapitalisme itu mencakup pasar bebas, modal atau kapital, laba, majikan, buruh dan alat-alat produksi. Namun, dapat dikatakan bahwa esensi kapitalisme yang tetap dan sama untuk semua bentuk kapitalisme itu adalah modal/kapital. Dan, meski bentuk dan perwujudannya berbeda, tetapi tujuan dari sistem kapitalis tetaplah memperoleh laba/keuntungan yang setinggi mungkin dengan biaya produksi sedikit mungkin. Dalam sistem ini memungkinkan setiap orang mendapatkan peluang yang seluas-luasnya lewat persaingan bebas untuk mencari keuntungan ekonomis bagi dirinya

Budaya Yang Telah Mengakar. Telah dijelaskan bahwa salah satu pendukung perkembangan kapitalisme adalah budaya Barat yaitu budaya masyarakat Eropa yang telah ada sejak masa peradaban Yunani dan Romawi Kuno. Hingga masa pertumbuhan dan perkembangan bangsa Eropa, budaya ini tetap dipegang teguh sebagai prinsip-prinsip hidup. Budaya ini pula yang telah mendukung semangat kapitalisme. Lalu seperti apa budaya Barat yang dimaksud? Sebelum melihat dimana letak peran budaya Barat terhadap pertumbuhan dan perkembangan kapitalisme di Eropa, secara singkat perlu dibahas lebih dulu mengenai budaya Barat yang dimaksudkan.

Peradaban Eropa telah ada sejak masa Yunani Kuno, yang dapat dilihat pada corak kehidupan polis-polis-nya yang telah menunjukkan tingkat kebudayaan yang tinggi. Tingginya peradaban Yunani itu tercermin dalam bidang: 1) Sistem pemerintahan di polis-polis yang demokratis. Ciri polis (negara kota) adalah: a) swasembada dalam bidang perekonomian, b) otonom dalam mengatur pemerintahan, c) merdeka secara politis. 2) Ilmu pengetahuan, yakni sastra dan filsafat. Hal ini memungkinkan bertumbuh kembangnya sebagai bangsa yang mempunyai ciri individualis, demokratis, rasional, dan liberal/ bebas. Dalam corak kehidupan polis ini dapat dilihat inti dari kebudayaan Yunani, yang juga telah diadopsi oleh seluruh bangsa-bangsa Eropa, bahkan  menjadi ciri khas sikap/budaya masyarakat Eropa, adalah budaya liberalisme, individualisme, dan rasionalisme.

Liberalisme, individualisme, dan rasionalisme ini yang dari abad ke abad terus digunakan dan dipegang sebagai landasan dasar masyarakat Eropa dalam bersikap maupun dalam bertindak atau bertingkah laku. Sehingga bangsa Eropa dapat berkembang dan terus mengalami proses kemajuan seperti yang dapat dilihat dewasa ini.

Budaya Barat dan Semangat Kapitalisme. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kapitalis (sebagai budaya) merupakan produk asli budaya Barat, yang kelahirannya tidak bisa dilepaskan dari liberalisme dan individualisme, dan yang didukung oleh pola pikir yang rasional (rasionalisme). Oleh sebab itu, jika merunut kembali asal usul semangat kapitalisme di dalam budaya Barat adalah relevan.

Para sosiolog seperti Max Weber, Werner Sombart, dan Peter Berger sepakat bahwa yang menjadi dasar atau fondasi budaya Barat tidak dapat dilepaskan dari budaya Yudaisme, Kekristenan, dan Yunani-Romawi Kuno, yang entah dengan sendirian atau bersama-sama meletakkan pilar-pilar individualisme, rasionalisme dan liberalisme yang menopang budaya Barat. Pilar-pilar tersebut pada bagian lain juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan kapitalisme.

Kapitalisme itu membutuhkan rasionalisme, yaitu pola pikir atau cara pikir yang rasional (dengan menggunakan akal sehat). Karena dalam kapitalisme itu tidak jauh dari persoalan untung-rugi maupun investasi. Dan masalah itu membutuhkan suatu pemikiran yang rasional, karena segala sesuatunya itu harus dapat diperhitungkan sebelumnya. Kemudian kapitalisme juga membutuhkan sikap atau budaya liberalisme atau kebebasan. Adanya tuntutan pasar bebas bagi mekanisme ekonomi dalam sistem kapitalisme itu hanya mungkin terjadi jika masyarakat mendukung dan menggunakan prinsip budaya liberal. Kemudian, individualisme pun harus dijunjung tinggi, sebab pada akhirnya pencapaian tujuan dari kapitalisme yang disebut memperoleh keuntungan, selalu pertama-tama bagi dirinya sendiri. Dimanapun juga bahwa suatu kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seorang individu itu pertama-tama pasti untuk dirinya sendiri terlebih dahulu. Artinya bahwa usaha yang dijalankannya bertujuan memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri, disamping untuk memenuhi kebutuhannya.

Dengan demikian jelaslah bahwa kapitalisme dapat berkembang dengan pesat di Eropa karena sikap hidup atau budaya masyarakat Eropa yang telah tertanam dan menjadi dasar bagi setiap tindakan atau menentukan sikap. Dalam perkembangannya sistem kapitalisme ini memang tidak begitu saja dengan mudah dapat diterapkan dan ditanamkan pada kehidupan masyarakat Eropa. Jika mencoba untuk menelusurinya, pertumbuhan dan perkembangan kapitalisme di Eropa dari abad ke abad atau dari masa ke masa mengalami berbagai bentuk dan memiliki cara-cara yang beraneka macam. Mekipun demikian, prinsip-prinsip yang dipegang dalam kapitalisme tetaplah sama. Dan, liberalisme, individualisme serta rasionalisme tetap menjadi tumpuannya. Hingga dewasa ini, prinsip liberalisme-lah yang lebih nampak jelas, karena perkembangan jaman dan tuntutan yang semakin kompleks.

Oleh: Ambrosius Oky Sumantri

Sejarawan Pendidik

Mengajar di sebuah sekolah Swasta

Kawasan BSD, Tangerang Selatan

Referensi:

Adisusilo, Sutarjo. 2005. Sejarah Pemikiran Barat. Yogyakarta: Universitas

Sanata Dharma.

Adisusilo, Sutarjo. Hand Out: Sejarah Peradaban Barat Klasik. Universitas

Sanata Dharma.

Lucas, Henry. 1993. Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan. Yogyakarta:

Tiara Wacana.

Smith, David dan Phil Evans. 2004. Das Kapital. Yogyakarta: Resist Book.

Widodo, dkk.. 2002. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Absolut

Posted in: Warta Opini