INTEGRASI MAJAPAHIT dibawah “Sumpah Palapa”

Posted on Juni 4, 2010

0


Gagasan Penyatuan Bumi Nusantara (Cakrawala Mandala). Gagasan mengenai cakrawala mandala atau wawasan nusantara, sebenarnya sudah ada sejak Raja Kertanagara, yakni sejak Kerajaan Singosari. Pada masa pemerintahannya, Kertanagara sudah mampunyai cita-cita untuk meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke luar Jawa. Tindakan Kertanagara untuk meluaskan kekuasaannya ke luar Jawa tersebut sebenarnya dilakukan untuk menghadang ancaman dari Cina, yakni kaisar Khubilai Khan dari dinasti Yuan, yang juga sedang melebarkan kekuasaannya hingga ke daerah selatan (Burma, Kamboja, Campa, hingga ke Jawa). Disinilah Kertanagara mengubah dari yawadwimandala (berpusat pada Jawa) ke cakrawala mandala (perluasan sampai ke luar pulau Jawa). Namun, apa yang telah dilakukan oleh Kertanagara ini sempat terhenti karena penyerangan Jayakatwang dari Kediri (1292).

Barulah kemudian cita-cita cakrawala mandala ini dilanjutkan oleh Raden Wijaya. Ia adalah pendiri kerajaan Majapahit, dimana kerajaan ini akan menjadi sebuah kerajaan yang besar dan tersohor. Pada masa Raden Wijaya ini yang disebut sebagai proses integrasi awal Majapahit. Dalam prasasti Adan-adan (1301) dan prasasti Balawi (1305), menyebutkan bahwa keempat putri Kertanagara yang dinikahi oleh Wijaya (catus dewika) merupakan catus prakara (empat cara, jalan, tembok), dan melambangkan pakrti (sifat, watak, pekerti) pulau Bali, Melayu, Madura, dan Tanjungpura. Tribhuwaneswari melambangkan prakrti pulau Bali, Narendraduhita – Melayu, Pradjnaparamita – Madura, dan Gayatri – Tanjungpura. Jalaslah bahwa wawasan Nusantara (perluasan Cakrawala Mandala) yang dirintis oleh Kertanagara, secara simbolis diteruskan oleh menantunya, Kertarajasa Jayawardhana (pendiri kerajaan Majapahit). Dan Sejarah telah membuktikan bahwa integrasi awal kerajaan Majapahit telah tercapai, yakni dengan berdirinya Kerajaan Majapahit.

Kemudian integrasi Majapahit selanjutnya dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan dipegang oleh seorang mahapatih, yakni Patih Amangkubumi Gajah Mada. Dimana dengan sumpah Nusantaranya, Sumpah Palapa, dihadapan Maharani Tribhuwanottunggadewi, ia berhasil menyatukan Bumi Nusantara dibawah kekuasaan kerajaan Majapahit.

Gajah Mada dan Sumpah Palapa. Gajah Mada awalnya hanyalah seorang Bekel Bhayangkari (kepala prajurit pengawal raja). Kemudian ia tampil ketika terjadi peristiwa di Bedander , yakni pemberontakan oleh Kuti tahun 1319. Karena keberhasilannya memadamkan pemberontakan Kuti dan menyelamatkan sang Raja, maka Jayanagara mengangkat Gajah Mada menjadi Patih di Kahuripan (sekarang di sekitar Surabaya) pada tahun itu juga. Dan dua tahun kemudian (1321) ia kemudian diangkat menjadi Patih di Daha (sekitar Kediri-Malang).

Baru pada masa pemerintahan Tribhuwanottunggadewi, Gajah Mada diangkat menjadi Maha Patih Amangkubumi di Majapahit (1331) menggantikan Arya Tadah. Pengangkatan Gajah Mada ini dilakukan setelah keberhasilannya menundukkan Sadeng (di tepi sungai Badadung, Puger, antara Lumajang-Jember) pada tahun 1331.

Pada masa inilah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Nusantaranya dihadapan Maharani Tribhuwanottunggadewi. Sumpah ini dikenal sebagai Sumpah Palapa. Bunyi Sumpah Gajah Mada adalah sebagai berikut:

“lamun huwus kala nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”. Ia berjanji bahwa, “apabila sudah kalah nusantara, saya menikmati palapa, kalau sudah kalah Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, waktu itulah saya menikmati palapa” .

Arti kata palapa sendiri menimbulkan berbagai pendapat.

  • § Menurut Poerbatjaraka: palapa dari kata alap, artinya menikmati daerah Lungguh.
  • § V.d. Tuuk berpendapat: palapa dari kata lapa, artinya beristirahat.
  • § Crueq: palapa berarti cuti.
  • § Berg: palapa dari kata lapa (lapar), dan diartikan sebagai brata (tapa-brata) – penyiksaan diri.
  • § Pendapat yang menarik dan masuk akal, serta menggugurkan semua pendapat di atas adalah pendapat Karsana (seorang guru bantu sebuah SD di Lumajang). Ia berpendapat bahwa: palapa (Jawa Kuno) sama dgn plapah (Jawa Baru), berarti bumbu-bumbu, bumbu yang terpenting yakni garam (bumbu pokok). Dengan demikian Patih Gajah Mada menjalani  puasa mutih.

Realisasi sumpah nusantara itu dilaksanakan mulai tahun 1334 sampai dengan tahun 1357. Berakhirnya perluasan Cakrawala Mandala ditandai dengan adanya peristiwa Pasunda Bubat tahun 1357. Peristiwa ini merupakan perang antara tentara Majapahit melawan tentara Sunda. Peristiwa ini, dikatakan sebagai kegagalan Patih Gajah Mada dalam nenundukkan Kerajaan Pajajaran (Sunda, Jawa Barat).

Kepustakaan:

–     Marwati, dkk. 1993. Sejarah Nasional Indonesia (Jilid II). Jakarta: Balai Pustaka.

–     Sanusi. 1965. Sejarah Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

–     Satyawati. Sejarah Indonesia (Jilid IA). Bandung: Balai Pendidikan Guru.

–     Slamet Muljana. 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

–     Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LkiS.

Posted in: Gardoe Peristiwa