Apa KEBUDAYAAN itu?

Posted on Juni 4, 2010

0


Definisi tertua mengenai kebudayaan dikemukakan E.B. Tylor (1832 – 1917) dalam bukunya Primitive Cultures yang menekankan konsepsi kebudayaannya atas dasar teori evolusi, yaitu menganggap kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, moral, adat dan berbagai kemampuan serta kebiasaan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Pada sisi lain Margaret Mead (1901 – 1978) mendefinisikan kebudayaan sebagai perilaku pembelajaran sebuah masyarakat atau subkelompok. Raymond Williams (1921 – 1988) menyatakan budaya mencakup organisasi produksi, struktur keluarga, struktur lembaga yang mengekspresikan atau mengatur hubungan sosial, bentuk-bentuk berkomunikasi khas anggota masyarakat. Meskipun pengertian kebudayaan sangat bervariasi, ada suatu upaya merumuskan kembali konsep kebudayaan yang dilakukan oleh A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam “Culture: A Critical Review of Concept and Definitions” (1952) yang mengutarakan bahwa yang dimaksud dengan kebudayaan adalah keseluruhan pola tingkah laku dan pola bertingkah laku, baik eksplisit maupun implisit, yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol, yang akhirnya mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok manusia, termasuk perwujudannya dalam benda materi. (lihat C. Kluckhohn dalam P. Suparlan (edit), 1984 : 83 – 91 ; A.L. Kroeber & C. Kluckhohn, 1952)

Bronislaw Malinowski (1884 – 1942) mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan fungsionalisme, yang beranggapan bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat di mana unsur tersebut berada. Fungsi dari salah satu unsur tersebut adalah kemampuannya untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau primer manusia seperti kebutuhan makanan, reproduksi, merasa enak badan (bodily comfort), keamanan, kesantaian, gerak dan pertumbuhan. Dalam pemenuhan kebutuhan dasar itu, muncul kebutuhan jenis kedua atau sekunder, yaitu kebutuhan manusia sebagai hasil dari usaha-usaha dalam memenuhi kebutuhan pokoknya dengan cara melibatkan orang lain atau bekerjasama dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat. Kebutuhan manusia berikutnya adalah kebutuhan integratif yang mencerminkan manusia sebagai makhluk berbudaya atau beradab yang disebabkan sifat-sifat dasar manusia sebagai makhluk yang mempunyai pikiran, bermoral, bercita rasa, dan dapat mengintegrasikan berbagai kebutuhan menjadi suatu sistem yang dapat dibenarkan secara moral, dan dapat diterima oleh akal pikiran beserta cita rasanya. (Suparlan dalam Rohidi, 2000 : 6)

Kebutuhan primer, sekunder, dan integratif tersebut kesemuanya dapat dipenuhi oleh manusia melalui kebudayaannya yang berfungsi sebagai pedoman untuk bertindak. Pengertian kebudayaan di sini adalah sebagai keseluruhan pengetahuan, kepercayaan dan nilai yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Isi dari kebudayaan tersebut, antara lain adalah perangkat model pengetahuan atau sistem makna yang terjalin secara keseluruhan dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis. Perangkat model pengetahuan atau sistem makna tersebut digunakan secara selektif oleh warga masyarakat pendukungnya untuk berkomunikasi, dan juga berfungsi sebagai pedoman dalam bersikap atau bertindak guna menghadapi lingkungan beserta memenuhi berbagai kebutuhannya (C. Geertz, 1973).

Istilah kebudayaan atau culture dalam bahasa Inggris, berasal dari kata benda dalam bahasa Latin colere yang berarti bercocok tanam (cultivation), produksi, pengembangan, atau perbaikan tanaman yang khusus. (Webster’s, 1994 : 337) Dalam bahasa Indonesia, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi (budi atau akal); dan kadangkala ditafsirkan sebagai perkembangan kata majemuk “budi-daya” yang berarti daya dari budi, berwujud cipta, rasa, dan karsa. (Purwanto, 2000 : 51-52)

Pengertian kebudayaan di sini seperti yang telah diuraikan di muka adalah sebagai keseluruhan pengetahuan, kepercayaan dan nilai yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Kebudayaan berisi antara lain perangkat model pengetahuan atau sistem makna yang terjalin secara menyeluruh dalam simbol-simbol yang ditransmisikan secara historis. Model pengetahuan atau sistem makna tersebut digunakan secara selektif oleh warga masyarakat pendukungnya untuk berkomunikasi, melestarikan dan menghubungkan pengetahuan, serta merupakan pedoman bersikap dan bertindak dalam menghadapi lingkungannya, guna memenuhi berbagai kebutuhannya (C. Geertz, 1973 : 89).

Posted in: Gardu KONSEP