Romo MANGUNWIJAYA: Arsitek Humanis

Posted on Maret 25, 2010

0


“ Karya arsiteturnya sangat natural dan mencerminkan pengabdiannya kepada nilai-nilai kemanusiaan. Semasa hidupnya berbagai predikat ia sandang. Mulai dari Pastor, guru, insinyur, sastrawan, dan dikenal sebagai pendamping kaum tertindas. Semangat kemanusiaannya seolah tak pernah surut. Ide-ide pemikirannya sampai sekarang masih tetap hidup. Itulah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr atau lebih dikenal dengan nama Romo Mangunwijaya (Rm Mangun). “

 

Ia lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929. Ia putra seorang Ketua DPRD Magelang (volksraad) masa pemerintah kolonial Belanda. Romo Mangun adalah anak sulung dari sebelas bersaudara. Pendidikan dasarnya diselesaikan di Magelang (1943), SMP di Yogyakarta (1947) dan SMA di Malang (1951).

Visi hidupnya mulai tumbuh saat ia bergabung dalam keprajuritan sebagai Komandan Seksi Tentara Pelajar Brigade XVII, Kompi Kedua. Saat itu ia bersama rekan-rekan prajurit disambut layaknya seorang pahlawan oleh masyarakat Malang. Tetapi, komandan batalion Tentara Rakyat Indonesia Pelajar (TRIP), Mas Iman, dalam pidatonya justru menolak. “Kami bukan pahlawan. Kami telah membunuh, membakar, merusak, tangan kami penuh darah. Yang pantas disebut pahlawan adalah rakyat yang terjajah dan tertindas. Maka jangan meng-elu-elukan saya, lebih baik perhatikan anak-anak muda ini, yang bisa berguna nantinya bagi pembengunan kemerdekaan bangsa ini, dan untuk mengabdi pada rakyat”. Romo Mangun tersentuh dan tersadarkan mendengar pidato tersebut, sehingga turut menentukan bagi langkah hidup Romo Mangun kemudian hari. Akhirnya, Romo mangun masuk ke seminari, dan pada tahun 1959 ditahbiskan menjadi Pastor Projo yang langsung memimpin paroki serta mendampingi masyarakat.

Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi insinyur, ia melanjutkan studi arsitektur di ITB (1959-1960), berlanjut ke Sekolah Teknik Tinggi Rhein, Westfalen, Aachen, Republik Federasi Jerman. Ia menamatkan studi teknik sipil 1966, setahun setelah B.J. Habibie lulus dari Universitas yang sama. Karya arsitekturnya sangat beragam, dari kompleks peziarahan Sendangsono, Gedung Keuskupan Agung Semarang, Bentara Budaya Jakarta, Pertapaan Bunda Pemersatu, sampai Biara Trappist di Gedono Salatiga, dan berbagai bangunan lainnya, termasuk beberapa Gereja. Tak main-main, beberapa karyanya membuahkan penghargaan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Awards 1991 dan 1993.

Sedangkan penataan lingkungan di bantaran Kali Code, Yogyakarta, membuahkan The Aga Khan Award for Architecture tahun 1992. Karya yang sama di tahun 1995 membuahkan The Ruth and Ralph Erskine Fellowship Award dari Stockholm, Swedia, kategori arsitektur demi rakyat yang tak terperhatikan. Pemukiman di tepi Kali Code ini buakan sekedar penataan fisik semata, tetapi juga lebih pada penataan segi sosio-politis dan pengelolaan kemasyarakatan. Memang bukan hal sederhana. Perlu totalitas dan napas panjang sampai Romo Mangun dikenal sebagai Bapak dari masyarakat “Girli” (pinggir kali).

Ciri dari arsitektus Romo Mangun adalah menunjukkan keterikatan yang kuat pada budaya lokal. Segi terkuat dari semua rancangan Romo Mangun adalah tektonikanya. Tektonika merupakan aspek arsitektur yang terkait dengan bagaimana mengolah dan mempertemukan bahan bangunan serta mengartikulasi penyelesaian sambungan dalam kaitan dengan gaya konstruksi.

Romo mangun boleh dikatakan adalah seorang pejuang kemanusiaan yang cinta perdamaian. Yang memberi perhatian khusus kepada umat manusia, khususnya bagi bangsanya sendiri, lebih khusus lagi bagi orang-orang “kecil” yang seringkali terpinggirkan bahkan dilupakan. Selain sebagai arsitek bangunan, Romo Mangun juga dikenal sebagai “arsitek pendidikan rakyat miskin” (pejuang humanisme), terutama bagi anak-anak yang tidak memperoleh kesempatan pendidikan formal.

Posted in: Gardoe Tokoh