Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels: 1808 – 1811 _ (bagian Pertama)

Posted on Februari 7, 2012

2


Untuk membahas masa Pemerintahan G.J. Daendels di Hindia-Belanda yang perlu diperhatikan adalah hal-hal berikut: a) Latar belakang penugasan dan tokoh Daendels di Hindia-Belanda, b) Tugas utama Daendels, c) Strategi/langkah-langkah Daendels (kebijakan2), dan d) Persoalan/hambatan yang dihadapi Daendels.

Latar Belakang Penugasan H.W. Daendels sebagai Gubernur Jenderal
Negeri Belanda dan Kondisi Politik Eropa
Sebelum membahas latar belakang dan tujuan penugasan Daendels di Hindia-Belanda perlu dibahas terlebih dahulu kondisi politik di Eropa yang turut menentukan status Belanda dikancah Eropa.

Pada tahun 1803, perang kembali berkecamuk di Eropa. Terutama perang antara dua negara imperialis (modern) besar pada abad tersebut, Inggris dan Perancis, yang membawa dampak luas pada kondisi di Eropa bahkan di berbagai belahan bumi lain yang menjadi bagian dari wilayah jajahan/koloni kedua negara imperialis tersebut. Inggris yang lebih kuat di laut memang merupakan musuh utama Prancis yang lebih kuat di darat. Kedua negara tersebut mempunyai sejarah rivalitas yang cukup panjang dan saling berlomba untuk menunjukkan superioritas dan prestise sebagai negara imperialis terkuat. Bahkan dalam hal kepemilikan tanah jajahan.

Kondisi ini membawa dampak bagi negara-negara mperialis Eropa lainnya termasuk Belanda. Pada tahun 1804, Napoleon Bonaparte menjadi Kaisar, sedangkan saudaranya, Louis (Lodewijk) Napoleon, menjadi raja Belanda. Dengan demikian, Kerajaan Belanda menjadi negara vasal Prancis (negara jajahan Prancis). Itu artinya, bahwa semua daerah jajahan Belanda, secara tidak langsung, menjadi milik Prancis. Termasuk Hindia-Belanda (Nusantara).
Dengan demikian, kecamuk parang di Eropa (rivalitas Prancis-Inggris) juga akan sampai ke kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, diamana Inggris (dengan nama EIC-nya) yang pada itu sudah memiliki koloni di India telah sampai hingga kawasan Semenanjung Malaya (Malaysia, Singapura). Dan siap merebut Nusantara. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa apa yang terjadi di Eropa turut berdampak terhadap nasib Nusantara.

Latar Belakang Penugasan Daendels
Seperti yang telah dijelaskan di atas, secara singkat, bahwa perang Eropa yang melibatkan  dua negara imperialis besar tersebut sampai ke kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Rivalitas antara keduanya tampak ketika Inggris, yang sudah mempunyai koloni di India, telah berada di kawasan semenanjung malaya. Malaysia serta Singapura berhasil dijadikan basis kekuatan militer Inggris di kawasan Timur Asia tersebut. Ini berarti, bahwa jajahan Belanda di Nusantara sangat terancam direbut oleh Inggris. Ancaman tersebut semakin serius lagi setelah Napoleon Bonaparte melancarkan sistem kontinental terhadap Inggris, yakni politik blokade laut terhadap Inggris di Eropa yang memutus hubungan antara Inggris dengan dunia luar.

Dalam keadaan kalut tersebut, hubungan Hindia-Belanda dengan Eropa terputus pula. Pemerintahan Belanda dan Prancis sadar sekali bahwa mustahil mengirim bantuan ke Batavia. Yang dapat diakukan adalah hanyalah mengutus seorang Gubernur Jenderal yang dapat bertindak lebih, artinya dapat berbuat sesuatu dengan cepat untuk mengantisipasi kemungkinan serangan Inggris ke Nusantara (terutama Jawa, yang merupakan pusat pemerintahan kolonial).

Maka, dikirimlah Herman Willem Daendels. Seorang Belanda, bekas advokat, dan seorang patriot, jenderal, serta pengagum Napoleon Bonaparte, untuk menjalankan tugas yang sulit tersebut. Bahkan, begitu sulitnya, kedatangan Daendels ke Nusantara pun harus berputar jauh melalui Benua Amerika (New York) dan menggunakan kapal Amerika untuk sampai ke Jawa.

Tujuan Utama Penugasan Daendels di Hindia-Belanda
Cukup jelaslah apa yang menjadi tugas utama daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia-Belanda. Tak lebih karena alasan politik pertama-tama dan tentu kepentingan ekonomi, seperti yang telah terurai pada latar belakang di atas. Tugas-tugas Daendels berada dibawah perintah langsung serta pengawasan Kementrian Jajahan (ministerie van kolonien) yang dipimpin oleh Paulus van der Heim.

Tugas utama Daendels adalah pembangunan pertahanan Nusantara terhadap Inggris. Disamping itu, ketika menjalankan tugasnya, Daendels juga dihadapkan pada persoalan ekonomi yang tidak mendukung kebijakan-kebijakannya (khas pemerintahan Hindia-Belanda yang buruk), serta persoalan sosial-politik yang dianggap dapat menghambat rencana-rencananya. Inilah gambaran kondisi mendesak yang harus dijalankan terlebih diatasi oleh Gubernur Jenderal ini.
Dengan demikian jelaslah bahwa tugas utama Daendels adalah mempertahankan Nusantara dari ancaman serangan Inggris. Dan pada bagian berikut, akan diuraikan rencana-rencana/kebijakan-kebijakan Daendels dalam menjalankan tugasnya sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda.

Kebijakan-kebijakan Daendels
Telah diuraikan pada bagian sebelumnya bahwa tugas G.J. Daendels di Hindia-Belanda tak lebih adalah menyokong  kebutuhan perang Perancis – juga Belanda – baik militer maupun financial, sehingga menuntut langkah cepat Daendels untuk merealisasikan tugas-tugasnya tersebut. Karena faktor tersebut kepemimpinan seorang penganut paham liberal ini justru sering disebut sebagai Gubernur Jenderal ber-“tangan besi”. Hal ini dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal ini.

Memperkuat Pertahanan Militer
Bidang pertahanan merupakan persoalan utama yang dihadapi Daendels. Tidak mengherankan jika hal ini mempengaruhi langkah-langkah kebijakan-kebijakan lainnya. Daendels dihadapkan pada persoalan utama yaitu lemahnya angkatan bersenjata dan pertahanan Jawa terhadap serangan Inggris. Karenya Daendels membuat dua kebijakan mendesak untuk memperkuat pertahanan Hindia-Belanda.

Pertama, demi menambah jumlah serdadunya – yang pada itu jumlah serdadu di Jawa tidak lebih dari 2000 personil, bahkan yang bersenjata hanya 1/3-nya – baik angkatan darat maupun angkatan laut, Daendels melakukan rekruitmen terhadap kaum pribumi untuk dilatih menjadi militer (milisi). Kebanyakan serdadu Bumiputera tersebut berasal dari Manado, Jawa, dan Madura. Dengan demkian ia berhasil menambah jumlah angkatan bersenjatanya mencapai 18.000 hingga 20.000 serdadu.

Untuk mendukung kelengkapan militer tersebut membuat hampir semua bidang/aspek dijamah oleh rencana Daendels. Misalnya saja, untuk menyediakan perlengkapan seragam militer para petani dipaksanya memintal benang dan menenun kain. Kemudian di Semarang, para pembuat Gamelan diubahnya menjadi pekerja pabrik miseu untuk keperluan senjata. Sentra pengrajin peralatan dapur tembaga di Gresik, diubah menjadi pabrik senjata (bedil: sejenis senapan laras panjang). Di Surabaya segera dibangun pangkalan Angkatan Laut. Koningsplein (Lapangan Merdeka Sekarang – Lapangan Banteng) dijadikan tempat pelatihan militer, dan tidak jauh dari itu dibangun rumah sakit militer (sekarang RSPAD Gatot Subroto).

Kedua, pembangunan Grote Postweg (Jalan Raya Pos) Anyer-Panarukan. Jalan sepanjang tak kurang dari 1000 km ini dibangun untuk mendukung mobilitas militer agar menjadi lebih capat dan mudah. Terutama untuk menjaga pos-pos pertahanan penting di sepanjang pantai utara Jawa. Kerja rodi-pun diberlakukan untuk pembangunan proyek raksasa tersebut. Karena banyaknya tenaga rakyat yang dibutuhkan untuk pembangunan jalan tersebut dan terdesak oleh waktu, wajib kerja menjadi pilihan cara bagi Daendels.

Berkat keberadaan Jalan Raya Pos tersebut (sekarang dikenal dengan Jalur Pantura), tidak hanya memberikan keuntungan di bidang militer saja, tetapi membawa arti penting bagi mobilitas ekonomi, sosial, bahkan politik. Perjalanan kereta pos Anyer-Panarukan yang membutuhkan waktu hingga beberapa bulan dapat dipersingkat menjadi cuma enam hari.

Yang perlu disimpulkan disini, demi merealisasikan program-programnya di atas Daendels menggunakan cara-cara yang lebih menunjukkan sistem tradisional (konvensional). Tentu hal ini faktor kondisi/relitas yang  mendesak Gubernur Jenderal ini. Selain itu, tidak sedikit biaya operasional yang dibutuhkan untuk mendukung kerja Daendels. Sehingga menuntut Daendels untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Langkah Daendels di bidang ekonomi semakin menunjukkan cara-cara yang ditempuhnya layaknya cara-cara konvensional, yakni eksploitasi SDA & SDM.

Sumber Acuan:

  • A. Kardiyat Wiharyanto. 2004. Indonesia Dalam Abad XIX. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
  • Parakitri T. Simbolon. KOMPAS. 1995. Menjadi Indonesia, Buku I: Akar-akar Kebangsaan Indonesia.Jakarta: KOMPAS – Grasindo.
  • Sartono Kartodirdjo. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, Dari Emporium Sampai Imperium Jilid I. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.
  • Merle Calvin Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
Posted in: Gardoe Peristiwa